Murah dan Cocok untuk Berbagai Kalangan, Vending Machine Analog

Sekarang ini kita hidup di era digital, di mana hampir semua hal dapat dijangkau secara virtual. Dari karya seni digital hingga mata uang digital, era ini telah membuat orang beralih ke gaya hidup baru yang serba digital. Bahkan bisa dipastikan kalau kamu sedang baca artikel ini melalui layar smartphone-mu. Kita semua sangat menyukai seberapa cepat dan nyaman semuanya dapat dilakukan. Sampai-sampai, di era digital ini (bersama dengan sepupu jauh nyebelin nya yaitu era pandemi) membuat kita semua dapat tetap bekerja melalui layar laptop dari mana saja, tanpa perlu bolak-balik ke kantor.


Tapi, tidak semanis janjinya, era digital hanya berhasil jika orang memiliki aksesnya.


Orang-orang hampir lupa bahwa kita tidak berinteraksi dengan dunia melalui suplai digital ini, melainkan melalui cara kerja indera analog kita. Kita berinteraksi dengan cara otak kita mengirimkan sinapsis ke tangan kita untuk membuat dan menyentuh sesuatu, ke indera perasa kita, ke percakapan kita, bahkan ke emosi kita––tidak ada yang bisa disalin oleh indera digital. Realitas adalah analog. Beberapa orang menyimpan uang tunai, beberapa percaya dengan keberadaan buku telepon, beberapa masih mendengarkan CD atau piringan hitam. Alat-alat analog ini membantu kita memahami siapa kita dan bagaimana kita mengoperasikan sesuatu; yaitu kebutuhan manusia akan hubungan analog.


Di sisi lain, dalam bisnis, bisnis digital mungkin lebih unggul karena sebagian besar model modal ventura berinvestasi dalam portofolio bisnis digital. Namun, melalui