Jujur Soal Scaling: Hal-hal yang Nggak Saya Antisipasi Waktu Bisnis Mulai Tumbuh
- Jeffry Budiman

- 4 hari yang lalu
- 4 menit membaca
Saya mau nulis ini bukan karena saya udah punya semua jawabannya.
Justru sebaliknya — saya nulis ini karena masih dalam proses, dan ada beberapa hal yang kalau saya tahu lebih awal, mungkin saya nggak perlu keringat dingin di tengah malam berkali-kali.
Di Smartven, kami bergerak di bisnis vending machine berbasis teknologi. Modelnya unik — kami menghubungkan brand consumer goods dengan para entrepreneur yang mengoperasikan mesin kami. Kelihatannya simpel dari luar. Kenyataannya? Jauh lebih kompleks dari yang saya bayangkan waktu pertama kali kami mulai.
Dan pertumbuhan itu sendiri — yang seharusnya jadi kabar baik — ternyata datang dengan kejutan-kejutan yang nggak ada di buku manapun yang pernah saya baca.
Waktu Bisnis Tumbuh, yang Ikut Tumbuh Bukan Cuma Omzetnya
Ada satu momen yang saya ingat betul.
Kami sedang dalam kondisi yang dari luar terlihat bagus. Ada klien besar, ada proyek yang jalan, ada tim yang mulai berkembang. Tapi suatu hari saya duduk sendiri, buka spreadsheet, dan menyadari sesuatu yang bikin saya diam cukup lama: hampir semua pendapatan kami bergantung pada satu pihak.
Satu. Pihak.
Bukan karena kami ceroboh. Tapi karena waktu bisnis tumbuh cepat, kamu sering fokus ke eksekusi sampai lupa mempertanyakan struktur dari pertumbuhan itu sendiri. Dan ketika akhirnya kamu sadar, kamu nggak bisa langsung ngerubahnya dalam semalam.
Pelajaran yang saya ambil dari situ bukan tentang klien tersebut — hubungannya baik-baik saja. Tapi tentang saya sebagai pemimpin yang terlalu lama nyaman dengan kondisi yang sebenarnya rapuh. Diversifikasi itu bukan strategi yang bisa dikerjain nanti. Itu fondasi.
Saya Terlalu Lama Percaya Kalau Masalah Operasional Bisa Diselesaikan dengan Sistem
Waktu distribusi kami mulai terasa kacau — mesin mana yang butuh restok, mana yang bermasalah, siapa yang harusnya handle apa — reaksi pertama saya adalah cari solusi teknis.
"Kita butuh sistem tracking yang lebih baik." "Kita butuh dashboard yang lebih lengkap."
Dan memang, tools itu membantu. Tapi ada satu percakapan yang akhirnya bikin saya sadar bahwa masalah utamanya bukan di sana. Masalahnya ada di kejelasan tanggung jawab — dan di beberapa posisi kunci yang skill set-nya belum berkembang seiring bisnis yang terus berubah.
Ngomong soal ini nggak pernah gampang. Ini soal orang-orang yang udah berjuang bareng sejak awal. Orang-orang yang saya percaya. Tapi menunda percakapan itu justru lebih berbahaya — buat mereka, buat tim, dan buat keseluruhan bisnis.
Ini yang sampai sekarang masih jadi bagian paling tidak nyaman dari peran saya sebagai CEO. Dan saya masih belajar melakukannya dengan lebih baik.
Kejelasan yang Saya Kira Sudah Ada, Ternyata Nggak
Di fase awal Smartven, saya nggak perlu banyak effort untuk bikin semua orang aligned. Semua orang ada di ruangan yang sama, semua orang tahu apa yang lagi dikerjain, dan "strategi" itu terasa hidup karena semua orang yang menjalankannya juga yang ikut merumuskannya.
Tapi waktu tim mulai bertambah — dan kami mulai menjalankan beberapa lini sekaligus, melayani brand principal, mengembangkan jaringan entrepreneur, sambil terus membangun infrastruktur — saya sadar bahwa apa yang saya pikir sudah dikomunikasikan dengan jelas, ternyata ditafsirkan dengan cara yang berbeda-beda.
Bukan salah siapapun. Tapi salah saya karena berasumsi bahwa kejelasan itu otomatis terbawa saat tim berkembang.
Sekarang saya lebih disiplin soal ini. Apa fokus bulan ini. Kenapa ini yang paling penting sekarang. Dan apa artinya bagi pekerjaan masing-masing orang. Terdengar basic — tapi ternyata ini salah satu investasi waktu yang dampaknya paling nyata.
Saya Nggak Sadar Bahwa Saya Sendiri yang Jadi Bottleneck
Ini mungkin yang paling susah untuk saya akui.
Di awal-awal, saya terlibat di hampir semua keputusan. Itu masuk akal — bisnisnya kecil, risikonya besar, dan sering kali memang saya yang paling tahu konteksnya. Tapi kebiasaan itu terbawa terus, bahkan waktu tim dan operasional sudah jauh lebih besar.
Akibatnya? Setiap keputusan — besar atau kecil — harus lewat saya. Dan karena bandwidth saya terbatas, banyak hal yang jadi lambat bukan karena timnya kurang capable, tapi karena mereka nunggu input dari saya.
"Sebenernya saya udah tau jawabannya, tapi saya nggak yakin apakah saya boleh ambil keputusan sendiri."
Itu momen yang cukup menampar. Saya nggak membangun tim yang mandiri — saya tanpa sadar membangun tim yang bergantung pada saya untuk hal-hal yang harusnya bisa mereka handle sendiri.
Proses delegasi yang sesungguhnya — bukan delegasi di atas kertas, tapi yang betul-betul memberi kepercayaan dan otoritas — itu yang sedang terus saya perbaiki.
Satu Hal yang Mendorong Saya Masuk Program Stanford Seed
Semua yang saya ceritakan di atas — ketergantungan pendapatan, masalah orang, kejelasan komunikasi, gaya kepemimpinan saya sendiri — itu semua bukan hal yang bisa saya selesaikan sendirian dengan kerja lebih keras.
Yang saya butuhkan adalah perspektif dari luar. Dan jujurnya, keberanian untuk melihat diri sendiri lebih objektif.
Salah satu alasan saya join Stanford Seed Transformation Program bukan karena saya nggak tahu mau ke mana. Tapi karena saya sadar bahwa cara saya berpikir tentang bisnis — dan tentang peran saya di dalamnya — perlu di-challenge oleh orang-orang yang melihatnya dari sudut yang berbeda.
Ternyata, membangun bisnis yang tahan lama itu nggak cukup hanya dengan eksekusi yang cepat. Perlu ada momen di mana kamu berhenti, duduk diam, dan jujur soal apa yang sebenarnya terjadi.
Tulisan ini adalah salah satu cara saya melakukan itu.
Perjalanan Masih Jauh
Smartven masih dalam proses. Kami belum selesai membangun — dan mungkin memang tidak akan pernah benar-benar "selesai," karena bisnis yang hidup selalu bergerak.
Tapi ada perbedaan besar antara tumbuh tanpa sadar, dan tumbuh dengan sengaja. Saya lebih memilih yang kedua — meskipun prosesnya lebih lambat dan lebih tidak nyaman.
Kalau kamu founder atau pemimpin yang sedang ada di tengah-tengah perjalanan serupa, saya nggak punya jawaban yang lengkap. Tapi kalau kamu mau saling cerita, saya selalu terbuka untuk itu.







Komentar